ANAK ANAK, UPIN IPIN DAN AYAM GORENG
Serial kartun Upin Ipin masih tetap eksis di televisi. Penggemarnya masih tetap setia meski episode yang ditayangkan itu itu saja, diulang lagi diulang lagi. Serial animasi anak-anak yang diproduksi oleh Les Copaque yang rilis perdana pada 14 September 2007 di Malaysia dan disiarkan TV9 ini awalnya bertujuan agar anak anak lebih menghayati bulan Ramadhan pada tahun 2007, dan ternyata mendapat sambutan hangat dari penonton. Bahkan serial Upin dan Ipin dinobatkan sebagai animasi paling terkenal pada tahun 2011. Di Indonesia, serial Upin Ipin ini tayang perdana di TVRI pada tahun 2007. Saat ini tayang di MNC TV setiap jam 17.30 WIB.
Serial ini menceritakan kakak beradik kembar bernama Upin dan Upin yang sudah yatim piatu karena kedua orangtua mereka telah meninggal. Mereka tinggal bersama Kakaknya (Kak Ros) dan Mak Uda (Opah) di kampung Durian Runtuh. Upin Ipin bersekolah di Taman Kanak Kanak Tadika Mesra bersama dengan kawan kawannnya seperti Mei Mei yang diceritakan sebagai keturunan Tionghoa merupakan anak yang pintar di kelas dan bercita cita menjadi guru. Ada juga Mail, Ismail bin Mail yang sangat gigih mencari rezeki dengan membantu ibunya berjualan ayam goreng. Kalimat saktinya adalah "dua singgit" atau dua seringgit. Teman yang lain yaitu Ehzan yang merupakan ketua kelas. Cita cita Ehzan ingin menjadi juru masak, karena dia suka makan."Intan Payung", yang kurang lebih artinya adalah anak manja, begitu Ehzan dipanggil olah ayah dan temannya, Fizi. Fizi adalah teman Upin Ipin yang baik hati dan senang sekali melihat tempat yang bersih dan sehat. Karena itulah dia bercita cita ingin jadi tukang angkat sampah. Jarjit Singh, dikisahkan sebagi anak laki laki keturunan India yang sangat suka berpantun. Cita citanya ingin menjadi seorang reporter handal. Selain Jarjit Singh, teman lain yang juga keturunan India adalah Devi yang sangat pandai bermain bekel. Teman yang lain yaitu Dzul dan Ijat. Mereka berdua terlihat sering bersama. Hal ini karena Ijat tidak pandai berbicara dan Dzul adalah penterjemahnya. Upin dan Ipin juga mempunyai teman dari Indonesia yaitu Susanti. Karena berasal dari Indonesia Susantipun awalnya belum terbiasa dengan obrolan teman temannya di Malaysia. Itulah beberapa teman Upin dan Ipin yang sering muncul dalam serialnya. Ada beberapa karakter lagi yang lain sebagai teman temannya, tetapi kemunculannya agak jarang.
Diantara sekian banyak tayangan yang mengatas namakan tayangan untuk anak-anak, baik kartun animasi atau sinetron, saya cukup sreg dengan serial ini. Ceritanya tentang kehidupan di sebuah perkampungan nan asri, persahabatan, kerjasama, pertemanan dari berbagai suku dan latar belakang sangat pas untuk tontonan anak-anak. Selain itu pesan religi untuk hormat pada orangtua, guru, dan kegiatan mengaji yang disajikan dengan gaya anak anak, sangat bisa ditransfer dengan mudah oleh anak anak. Aroma persaingan yang kini banyak ditampilkan dalam acara anak-anak yang lain, tidak tampak disini. Anak-anak tidak dituntut untuk menjadi yang paling pintar, paling unggul, paling bisa jadi juara. Apalagi sampai harus bermusuhan dengan teman-temannya hanya karena memperebutkan predikat dan gelar juara. Tidak juga membeda-bedakan antara si miskin dan si kaya. Semua tentang kebersamaan, kesederhanaa, keceriaan dan belajar yang menyenangkan.
Gayung bersambut, anak-anak saya juga sangat suka serial ini. Tak bisa diganggu gugat chanel TV nya jika Upin Upin sedang in action di MNC TV tiap sorenya. Duduk manis dan menikmati sekali episode demi episodenya. Sesekali saya arahkan pada mereka juga hal-hal baik yang patut ditiru dalam tayangan tersebut. Misalnya ketika bulan Ramadhan, Upin dan Ipin sudah mulai belajar berpuasa, juga melaksanakan Sholat Taraweh. Say sampaikan pada anak-anak, "Jadi, ayo mulai belajar puasa". Begitupun ketika tayang episode Istimewa Hari Ibu. Dihari istimewa ini, teman- teman Upin dan Ipin sangat sibuk mempersiapkan kado istimewa untuk ibu-ibu mereka, sementara Upin dan Ipin sudah tidak punya orangtua lagi karena telah meninggal. Akhirnya, Kak Ros mengajak mereka ke makam Mak (Ibu) untuk membersihkan makam dan memberi Mak hadiah yaitu Surat Al Fatihah.
" Tu, bahkan ketika orangtua telah meninggalpun, seorang anak tetap berbakti pada orangtuanya." kata saya.
"Iya yah, Nda", jawab si Kakak.
"Iya dong", kata saya lagi. Si kecil tak mau kalah, "Iya......" katanya.
Dan kamipun melanjutkan menonton dengan senang dan bahagia. Rasanya senang sekali kan bisa mendampingi anak-anak menonton televisi dengan tontonan yang menghibur sekaligus mendidik.
Ketika episode tentang cita cita, saya pun bertanya pada si Kakak, "Kakak kalau besok udah gede pengen jadi apa?".
"Pengen jadi tentara yang dokter Nda".
Saya agak berfikir tentang jawabannya itu. "Tentara yang dokter?"
"Iya, dokter yang tentara" kata si kakak lagi.
"Hem, bagus kakak. Nah kalau kakak pengen jadi tentara yang dokter, maka kakak harus bisa menjaga kesehatan. Kalau tidak sehat enggak bisa jadi dokter, apalagi tentara. Jadi tentara kan harus punya badan yang sehat dan kuat", nasehat saya.
Dalam hatipun bertanya, apa sampai besar anakku sayang akan tetap pada cita-citanya ini ya? Atau hanya sekedar keinginan anak-anak? Tapi apapun itu, doaku selalu adalah, apapun cita cita anak-anak, semoga Alloh kabulkan dan saya bersama suami sebagai orangtuanya semoga diberi jalan dan kemudahan untuk bisa mengantar anak-anak pada cita-cita mulianya. Amin.
Mendapat wejangan dari saya itu, si kakak menjawab, "apa iya Nda?"
"Iya," tegas saya. Si kakak hanya tersenyum.
Ketika episode Gosok Jangan Tak Gosok yang mengajarkan tentang pentingnya menggosok gigi, sayapun kembali pada acara memberi wejangan pada anak-anak.
"Nah, begitu caranya menggosok gigi, yang rajin ya, biar giginya bagus, sehat dan tidak berlubang".
"Iya......" jawab anak-anak kompak.
"Heeeeem, apalagi nih, yang pengen jadi tentara, gak boleh ada gigi berlubang"
Si kakak kembali hanya tersenyum.
Kebersamaan dan kerukunan dalam serial ini juga terlihat dalam episode Idul Fitri. Upin Ipin dan teman teman yang berasal dari suku dan agama yang berbeda tetap berteman dan bersama sama menikmati hidangan yang telah disediakn oleh Opah (Nenek).
Jadi, ini benar - benar bagus untuk tontonan anak-anak. Sedikit mengobati kerinduan atas tayangan anak-anak yang bermutu dan sarat makna.
Selain dampak bagusnya, serial ini ternyata juga membawa dampak lain. Anak-anak saya jadi bisa berbicara dengan logat Malaysia gitu. Terutama si kecil yang baru tiga tahun ini. Umur yang sangat bagus untuk menirukan apapun yang dilihat dan didengar.
"Macam mana ini bunda, tak bisa ini", teriaknya ketika dia menemui kesulitan ketika bermain.
Gubrak, antara heran dan tertawa tertahan, waaaah, anakku ini.
Kalimat lain yang sering terucap adalah "Tak boleh!", ketika ia tak berkenan mainannya dipinjam atau sebab lain yang membuatnya tidak berkenan. Heeem, ya sudahlah. Aku tersenyum saja.
Satu lagi nih, Upin Ipin sangat suka makan ayam goreng. Dan bisa ditebak kan, ini menular juga pada anak-anak. Kalau ditanya mau makan pakai apa, jawabnya "ayam goreeeeeeng". Ini berlaku untuk si kecil. Kakak juga suka si ayam goreng tapi tidak terlalu banget. Nah si kecil adik ini nih yang jadi suka banget ayam goreng. "Kaya Upin Upin" katanya. Catatan saja, si kecilku ini belum bisa bilang Upin Ipin. Selalu Upin Upin ia menyebutnya. Ayam goreng kan juga bergizi, jadi tak apalah.
Semoga kelak dikemudian hari akan ada lagi tayangan televisi produksi anak negeri yang bisa menjadi tontonan menghibur sekaligus memberi tuntunan.
Gayung bersambut, anak-anak saya juga sangat suka serial ini. Tak bisa diganggu gugat chanel TV nya jika Upin Upin sedang in action di MNC TV tiap sorenya. Duduk manis dan menikmati sekali episode demi episodenya. Sesekali saya arahkan pada mereka juga hal-hal baik yang patut ditiru dalam tayangan tersebut. Misalnya ketika bulan Ramadhan, Upin dan Ipin sudah mulai belajar berpuasa, juga melaksanakan Sholat Taraweh. Say sampaikan pada anak-anak, "Jadi, ayo mulai belajar puasa". Begitupun ketika tayang episode Istimewa Hari Ibu. Dihari istimewa ini, teman- teman Upin dan Ipin sangat sibuk mempersiapkan kado istimewa untuk ibu-ibu mereka, sementara Upin dan Ipin sudah tidak punya orangtua lagi karena telah meninggal. Akhirnya, Kak Ros mengajak mereka ke makam Mak (Ibu) untuk membersihkan makam dan memberi Mak hadiah yaitu Surat Al Fatihah.
" Tu, bahkan ketika orangtua telah meninggalpun, seorang anak tetap berbakti pada orangtuanya." kata saya.
"Iya yah, Nda", jawab si Kakak.
"Iya dong", kata saya lagi. Si kecil tak mau kalah, "Iya......" katanya.
Dan kamipun melanjutkan menonton dengan senang dan bahagia. Rasanya senang sekali kan bisa mendampingi anak-anak menonton televisi dengan tontonan yang menghibur sekaligus mendidik.
Ketika episode tentang cita cita, saya pun bertanya pada si Kakak, "Kakak kalau besok udah gede pengen jadi apa?".
"Pengen jadi tentara yang dokter Nda".
Saya agak berfikir tentang jawabannya itu. "Tentara yang dokter?"
"Iya, dokter yang tentara" kata si kakak lagi.
"Hem, bagus kakak. Nah kalau kakak pengen jadi tentara yang dokter, maka kakak harus bisa menjaga kesehatan. Kalau tidak sehat enggak bisa jadi dokter, apalagi tentara. Jadi tentara kan harus punya badan yang sehat dan kuat", nasehat saya.
Dalam hatipun bertanya, apa sampai besar anakku sayang akan tetap pada cita-citanya ini ya? Atau hanya sekedar keinginan anak-anak? Tapi apapun itu, doaku selalu adalah, apapun cita cita anak-anak, semoga Alloh kabulkan dan saya bersama suami sebagai orangtuanya semoga diberi jalan dan kemudahan untuk bisa mengantar anak-anak pada cita-cita mulianya. Amin.
Mendapat wejangan dari saya itu, si kakak menjawab, "apa iya Nda?"
"Iya," tegas saya. Si kakak hanya tersenyum.
Ketika episode Gosok Jangan Tak Gosok yang mengajarkan tentang pentingnya menggosok gigi, sayapun kembali pada acara memberi wejangan pada anak-anak.
"Nah, begitu caranya menggosok gigi, yang rajin ya, biar giginya bagus, sehat dan tidak berlubang".
"Iya......" jawab anak-anak kompak.
"Heeeeem, apalagi nih, yang pengen jadi tentara, gak boleh ada gigi berlubang"
Si kakak kembali hanya tersenyum.
Kebersamaan dan kerukunan dalam serial ini juga terlihat dalam episode Idul Fitri. Upin Ipin dan teman teman yang berasal dari suku dan agama yang berbeda tetap berteman dan bersama sama menikmati hidangan yang telah disediakn oleh Opah (Nenek).
Jadi, ini benar - benar bagus untuk tontonan anak-anak. Sedikit mengobati kerinduan atas tayangan anak-anak yang bermutu dan sarat makna.
Selain dampak bagusnya, serial ini ternyata juga membawa dampak lain. Anak-anak saya jadi bisa berbicara dengan logat Malaysia gitu. Terutama si kecil yang baru tiga tahun ini. Umur yang sangat bagus untuk menirukan apapun yang dilihat dan didengar.
"Macam mana ini bunda, tak bisa ini", teriaknya ketika dia menemui kesulitan ketika bermain.
Gubrak, antara heran dan tertawa tertahan, waaaah, anakku ini.
Kalimat lain yang sering terucap adalah "Tak boleh!", ketika ia tak berkenan mainannya dipinjam atau sebab lain yang membuatnya tidak berkenan. Heeem, ya sudahlah. Aku tersenyum saja.
![]() |
| Ayam goreng kesukaan |
Semoga kelak dikemudian hari akan ada lagi tayangan televisi produksi anak negeri yang bisa menjadi tontonan menghibur sekaligus memberi tuntunan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar