NASEHAT KECIL DARI PERMAINAN ULAR TANGGA
Sore ini, hujan ditambah mati lampu pula. Jadilah aku dan anak-anak dirumah saja. "Ayo, ayo kita mandi yuk. Nanti kalau kesorean gelap" kataku memberi komando. Anak-anak yang tadinya masih ogah - ogahan akhirnya mandi juga. Setelah rapi, mereka bingung nih ceritanya mau ngapain. Mau main, hujan. Mau nonton TV, mati lampu. Akhirnya mereka minta camilan. Oh untungnya aku masih punya seriping sebungkus. Kubuka dan kutuangkan ke toples. Akhirnya anak-anak ngemil sembari nunggu aku selesai mandi. Aku mandi setelah mandiin anak anak-anak dulu.Setelah aku selesai,.... hem mau ngapain ya? Tiba tiba si kakak teriak, "Nda, main ular tangga yuk" ajaknya. Jadilah kita bertiga main ular tangga. Kitapun pindah keruang depan dan buka saja pintunya biar gak gelap. Giliran pertama, si kakak, kedua si kecil, terakhir aku. Baiklah, ini memang hanya permainan ular tangga. Apa yang bisa kita dapatkan?Berlatih menunggu giliran mengocok dadu dan menjalankan bidak. Apalagi buat sikecilku yang baru mau tiga tahun. Latihan antri giliran ceritanya. Dia yang kocok dadunya, kakaknya yang jalanin bidaknya, aku yang ngawasin. "Eeeeh", rewel si kecil sembari gemes jika ingin bermain mengocok dadu. Kalau gemes begitu, dia mengepalkan kedua tangannya di depan dada sambil cemberut dan mengeluarkan suara begitu. Apalagi kalau si kakak dapat dadu enam. Masih main terus kan? Aku cuma tersenyum dan bilang, "Nanti ya nunggu gilirannya. Kakak dulu, kalau kakak dah selesai baru Aik". Si kecilpun patuh dan nunggu gilirannya.Pun begitu jika aku sedikit lengah tak melihat dadu yang keluar dari kakak. "Hayo tadi dapat berapa?", tanyaku menguji. Si Kakak tersenyum senyum misteri. "Hehehe, tiga Nda" katanya. Kalau dapat biji tiga kan dapat tangga, trus meluncur naik."Hey, jangan bohong lho, gak baik. Hayo yang bener dapat berapa?" tanyaku."Ya bener Nda, dapat tiga. Bener deh gak bohong", jawabnya."Bener?", tanyaku sekali lagi menguji kejujurannya."Bener Nda, gak bohong", jawabnya lebih tegas."Ya, bunda percaya. Anak bunda enggak bohong ya. Bohong kan tidak baik. Alloh Maha Tahu lho, meskipun tidak ada orang yang tahu", kataku sambil menyelipkan sedikit nasehat."Iya, heeh", kata Kakak tegas.Begitupun ketika mata dadu kita mengharuskan dapat kotak ular, yang artinya kita harus turun drastis dari kotak atas kebawah. Jangan enggak mau turun. Kan tetep bisa menang kok nantinya. So, meski cuma sekedar permainan sederhana, tetap bisa jadi sarana untuk menyelipkan petuah bijak. Pertama si Kakak kita ajari untuk belajar jujur meski tidak ada yang melihat. Ketika jatuh dari kotak atas ke kotak bawah, jangan takut. Masih tetap bisa menang kok. Dan, benar kan, ternyata di akhir permainan, si Kakak yang berhasil memenangkannya. Buat sikecilku sayang, latihan sabar menunggu giliran alias antri. Tidak menyerobot giliran orang lain. Bermain sambil belajar hal hal kecil seperti ini kurasa cukup efektif. Sebagai ibu bekerja aku berusaha berkomunikasi efektif dalam kesempatan bermain seperti sambil menanamkan nilai-nilai positif pada anak. Permainan ini memberi pelajaran penting sore ini. Kejujuran, jangan takut kalau pada titik dimana kita harus turun, dan bersedia mengantri. Sore ini jadi sore yang menyenangkan meski hujan dan mati lampu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar